Home
news
Seminar Internasional IAIN Jember: Menegaskan Islam Moderat untuk Membentengi Radikalisme Agama

Seminar Internasional IAIN Jember: Menegaskan Islam Moderat untuk Membentengi Radikalisme Agama


Diterbitkan Rabu, 11 November 2015 - 08:36:25 WIB

HUMAS-Guru Besar Agama Islam Universiti Utara Malaysia, Prof. Dr. Ismail Bin Haji Ishak mengajak semua kalangan Islam memperbanyak dialog untuk mempromosikan Islam moderat. Hal itu disampaikan Prof. Ismail saat memberikan ceramah pada Seminar Internasional bertajuk “ Media Freedom and Religious Intolerance: Challenges of Islamic Studies in Promoting Moderate Islam” yang dilaksanakan di Aula IAIN Jember, Selasa.

Menurut Pengarah Pusat Islam di Universiti Utara Malaysia ini, munculnya berbagai bentuk dan corak Islam saat ini membuktikan bahwa pemikiran Islam bersifat dinamis. Meski demikian, umat Islam harus berhati-hati sehingga apa yang dilakukannya tidak mengarah pada radikalisme.

Prof. Ismail menekankan perlunya pihak-pihak yang berupaya mengubah wajah Islam menjadi radikal untuk diajak bicara. Pasalnya, Islam tidak pernah mengajarkan kekerasan dalam beragama.  Ia berkeyakinan bahwa media massa memiliki kepentingan dan agenda tersendiri dalam menyikapi dan memberitakan kasus-kasus kekerasan dan intoleransi yang muncul mengatasnamakan agama.

“Perbanyaklah dialog-dialog, promoting Islam moderat. Sering-sering bikin dialog interfaith. Supaya harmony. Sehingga kecantikan Islam nampak”, ujarnya.

Sementara Guru Besar Komunikasi dan Media Universitas Airlangga, Prof. Rachma Ida, M.Comm, Ph.D. menyampaikan bahwa selama ini apa yang dilakukan media terkait dengan kekerasan bermotif agama selalu memunculkan keberpihakan kepada kepentingan kelompok mayoritas. Media berupaya memperbesar opini publik yang muncul. Padahal, media seharusnya bersikap independen karena menjadi pilar keempat negara. Bahkan, berdasarkan penelitian yang dilakukannya, media seringkali menutup-nutupi konflik kekerasan bermotif agama, dan menggantinya dengan motif politik atau motif lain. Beberapa kali ia melakukan pelatihan-pelatihan kepada para jurnalis untuk memperkuat idealisme, namun belakangan nilai-nilai itu kalah dengan kepentingan ekonomi politik media.

“Ketika terjadi konflik agama, umumnya tidak terdefinisikan konflik tersebut di media. Justru yang muncul adalah bahwa konflik itu tidak dilatari agama. Misalnya beberapa kasus  yang terjadi di Jawa Timur”, katanya.

Di sisi lain, menurutnya, kebebasan pers justru dimanfaatkan banyak gerakan-gerakan Islam, mulai dari yang liberal, konservatif sampai yang benar-benar salafi. 

Sedangkan Dr. Rumadi, MA. Direktur Program The Wahid Institute memaparkan hasil survey yang dilakukan Yayasan Pantau Jakarta terhadap media-media di Indonesia. Hasilnya, wartawan dan media tidak ada yang tidak berkepentingan alias selalu membawa misi-misi tertentu dalam pemberitaannya. Menurut dia, hal itu pasti berdampak pada apa yang diliput dan ditulis oleh wartawan.

“Yang ada adalah, apa yang sudah di kepala wartawan dan redaktur-redaktur itu dicari pembenaranya di lapangan. Dicari penjelasan-penjelasan narasumber yang jelas-jelas berpihak pada misi yang dibawa wartawan tadi”, ungkapnya.

Rumadi yang juga Ketua Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia (Lakpesdam) NU pusat ini menekankan perlunya masyarakat membendung gerakan-gerakan radikal. Jika tidak, maka toleransi di internal umat beragama akan terancam. Untuk itu, masyarakat juga harus terus menerus dikuatkan. Ia juga mengkritik apa yang seringkali dilakukan oleh pemerintah dan tokoh-tokoh masyarakat saat muncul kekerasan dalam agama.

“Kalau  muncul kekerasan dalam agama, maka yang dilakukan oleh banyak pihak adalah sekulerisasi, yakni mencari hal lain di luar agama yang dijadikan sumber persoalan, sehingga akar persoalan itu semakin tidak jelas dan tidak terselesaikan,” pungkas pengajar di UIN Syarif Hidayatullah ini.

Seminar Internasional ini juga menghadirkan Fardan Mahmudatul Imamah, MA., peneliti dari Center for Religious and Cross-cultural Studies (CRCS) Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada Yogyakarta yang mengkaji beberapa situs internet Islam radikal. Narasumber yang lain, Dr. Mundir, M.Pd., pengajar di IAIN Jember memaparkan tentang radikalisme agama. Menurutnya, salah satu sumber terjadinya radikalisme agama adalah pemahaman yang masih dangkal terhadap ayat al-Qur’an terkait dengan jihad dan qital/perang.

Dalam rangkaian Seminar itu juga ditanda tangani Nota Kesepakatan antara  IAIN Jember dengan Radar Jember, serta IAIN Jember dengan Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Timur tentang Partisipasi Masyarakat dalam Literasi Media.

Rektor IAIN Jember, Prof. Dr. H. Babun Suharto menjelaskan seminar internasional ini digelar sebagai tindak lanjut dari  kerjasama antara IAIN Jember dengan Universiti Utara Malaysia. Hubungan dua lembaga pendidikan ini dirintis untuk peningkatan kualitas  sumberdaya manusia dan kajian-kajian ke-Islaman dan Sosial kemasyarakatan.

Rektor juga mengajak semua pihak untuk terus menerus mempromosikan Islam yang damai, Islam yang memberi toleransi dan Islam yang membawa rahmat bagi semua umat. Beberapa waktu yang lalu,  pemerintah sudah menetapkan Hari Santri Nasional, hal itu adalah salah satu dukungan nyata pemerintah terhadap gerakan-gerakan yang dilakukan oleh kaum santri. Salah satu diantaranya adalah tetap menjaga Islam yang rahmatan lil alamin.(Dawud/Nun)

 


Share Berita


Komentari Berita

Komentar ditutup.